Survey atau Survei?

Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh bahasa internasional itu pada umumnya berupa kata-katanya yang “menyusup” ke dalam kosakata bahasa Indonesia. Kosakata-kosakata bahasa asing (baca Bahasa Inggris) dimaksud ada yang sudah resmi dipinjam dan ada pula yang masih dipertahankan sesuai aslinya meskipun dipakai dalam tuturan bahasa Indonesia. Akan tetapi, fakta menunjukkan masih ada penutur bahasa Indonesia yang belum mengetahui bagaimana penulisan kata-kata asing yang sudah dipinjam secara resmi dengan benar, seperti survey dan interview. Bagaimana kedua kata pinjaman itu seharusnya ditulis?

Survey dan interview adalah dua kata yang ada dalam kosakata bahasa Inggris. Kedua kata itu sering menghiasi produk tuturan para pemakai bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan survey dan interview sudah dipinjam dan diserap sebagai kosakata bahasa Indonesia. Kata-kata itu pun lebih sering digunakan dalam karya ilmiah yang dengan sangat ketat mensyaratkan penggunaan ragam baku (standar) bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia kata survey dan interview tersebut diserap dengan cara adaptasi.

Penyerapan unsur kata asing bisa dilakukan dengan dua cara, yakni adopsi dan adaptasi. Penyerapan dengan cara adopsi menghasilkan kata yang digunakan, baik lisan maupun tulis, sesuai bentuk aslinya, seperti kata stop ‘berhenti’. Sementara itu, peminjaman kata asing melalui adaptasi akan terlahir kata-kata serapan yang dituturkan dan dituliskan sesesuai dengan kaidah bunyi bahasa Indonesia. Contoh kata-kata serapan dengan cara adaptasi adalah manajemen, sosial, dan nasional.

Bagaimana halnya dengan kata survey dan interview? Ketua kata yang berasal dari bahasa Inggris itu sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Cara penyerapan mereka dalam bahasa Indonesia adalah adaptasi. Oleh karena itu, tulisan baku untuk kedua kata itu adalah survei  untuk kata survey dan interviu untuk kata interview. Penulisan kedua kata pinjaman sebagaimana dikemukakan di atas dapat dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI (KBBI Daring dapat diakses di sini).

Meskipun sudah resmi dipinjam sebagai kosakata bahasa Indonesia serta pelafalan dan penulisan disesuaikan dengan sistem bunyi bahasa Indonesia, kata survei dan interviu masih sering ditulis secara tidak benar oleh para penutur bahasa Indonesia. Kedua kata itu masih sering dijumpai ditulis sesuai aslinya, survey dan interview. Hal itu dapat dilihat dalam contoh kalimat di bawah ini.

Pertama Survei untuk tujuan eksplorasi atau penjajagan. Dalam hal ini, peneliti tidak memiliki hipotesis atas permasalahan yang akan dipecahkan melalui survei yang dilakukaannya. Sebagai contoh pada saat pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang kurikulum baru maka peneliti dapat melakukan survey eksplorasi untuk mengetahui sikap guru terhadap kurikulum baru tersebut. Peneliti juga dapat melakukan survey eksplorasi terhadap keputusan pemerintah menetapkan standar pendidikan yang baru selain kurikulum.

(Sumber data dapat diakses)

Penyebutan sumber data di atas tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan penulisnya. Hal itu dilakukan untuk menampilkan bukti otentik produk tuturan tertulis dengan media bahasa Indonesia.

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa penulis secara bergantian menuliskan kata survei dan survey dalam satu paragraf. Hal ini menunjukkan ketidakkonsistenannya dalam menggunakan kata yang ditulis secara benar. Dalam ha ini penulis sebetulnya mengetahui kaida penulisan kedua kata itu, namun masih sering terproduksi penulisan keduanya sesuai penulisan bahasa Inggris.

Selain kata survei, kata interviu juga masih sering ditulis sesuai aslinya dalam kalimat-kalimat bahasa Indonesia. Hal itu dapat dilihat dalam contoh di bawah ini.

Interview atau wawancara kerja dalam bahasa inggris biasa didapat jika perusahaan memberi persyaratan pelamar harus bisa berbahasa inggris, atau pelamar sendiri yang menerangkan bahwa ia menguasai bahasa bahasa inggris.

(Sumber data dapat diakses)

Data di atas menggunakan kata interviu yang ditulis sesuai aslinya. Selain itu, digunakan juga padanannya dalam bahasa Indonesia, yakni wawancara.

Paparan-paparan di atas membuktikan bahwa penutur bahasa Indonesia masih sering menggunakan kata-kata asing yang sudah resmi diserap ke dalam kosakata bahasa Indonesia sesuai dengan bentuk aslinya. Di pihak lain, kata-kata dimaksud sudah diadaptasikan penulisan mereka sesuai sistem bunyi bahasa Indonesia. Kata survey dan interview sudah diserap dan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan kata bahasa Indonesia, yakni survei dan interviu.

Melalui tulisan singkat dan sederhana ini diharapkan dapat meluruskan “kelalaian” –kalau tidak bisa disebut kekeliruan– itu. Akhirnya, meskipun tulisan ini hanya menjelaskan dua kata asing yang sudah diserap, diharapkan pula dapat membuat penutur bahasa Indoesia semakin mencitai bahasanya dengan cara menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.