prasastibahasa.com

Berbagi Wawasan tentang Pernik-pernik Linguistik kepada Nonlinguis
--

Kita atau Kami?

Kalau beberapa waktu lalu Anda penggemar acara “Mama Mia” dan variannya di Indosiar, pasti Anda tidak asing dengan kalimat ini, “Kita? Lo aja kali, gue kagak“. Kalimat itu sering menjadi bahan ejekan antara Ruben, Eko Patrio, dan Ivan Gunawan. Ingin mengetahui ada apa dengan kata kita yang sehari-hari sudah terbiasa kita ucapkan dan dengarkan  itu? Saya akan membicarakan secara singkat di halaman ini.

Sebetulnya itu kalimat biasa, namun cara berbicara mereka yang membuat jadi lucu dan akhirnya menjadi ungkapan yang populer di masyarakat. Biasanya kalimat itu mereka tuturkan dalam fragmen seperti ini. Kalau seseorang dari tiga presenter itu mengucapkan kalimat yang terdapat kata kita, akan langsung dipotong dengan kalimat, “Kita? Lo aja kali, gue kagak“. Maksudnya adalah mengapa harus kita? Kamu saja aku nggak ikut-ikut. Begitu kurang lebih.

Terlepas dari kelucuan yang mereka buat dengan kalimat itu, ada yang menarik untuk dibahas tentang kata kita yang akhir-akhir ini sering disalahgunakan dalam sebuah kalimat. Kesalahan ini justru sering dilakukan oleh sebagian orang jakarta yang notabene mereka sehari-hari berbahasa Indonesia. Bahkan, kerapkali atau mungkin selalu digunakan oleh para selebriti negeri ini dalam setiap pernyataan mereka di televisi. Mengapa disangkutpautkan dengan selebriti? Sebagai orang terkenal dan menjadi trend seter tentu “penyakit” kata kita ini cepat menyebar dan dipakai secara luas oleh pemakai bahasa Indonesia.

Lalu, bentuk kesalahan berbahasa itu seperti apa? Kesalahan yang sering dilakukan adalah dengan menukartempatkan antara pemakaian kata kita dengan kata kami dalam sebuah kalimat. Coba perhatikan kalimat yang sering diucapkan selebriti dalam acara infotainment ini, kita selama ini hanya sebagai teman dekat; tidak ada hubungan spesial.

Barangkali Anda akan bertanya, “Apa yang salah dengan kalimat seperti itu?” Tentu saja kalimat seperti itu tidak benar meskipun dari segi komunikasi dapat dipahami atau diterima. Istilah linguistiknya adalah berterima tetapi tidak gramatik. Untuk itu, mari kita coba pahami bersama-sama bagaimana duduk persoalannya.

Kata kita dan kami keduanya merupakan kata ganti orang (personal pronomina). Kata ganti orang dibagi menjadi tiga. Pertama, kata ganti orang pertama (pembicara). Kata ganti orang pertama ini dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu kata ganti orang pertama tunggal (aku dan saya) serta kata ganti orang pertama jamak (kami dan kita). Kedua, kata ganti orang kedua (pendengar atau orang yang diajak berbicara). Sama halnya kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua ini juga dibagi menjadi dua, yakni kata ganti orang kedua tunggal (kamu, kau, dan Anda) dan kata ganti orang kedua jamak (kalian). Ketiga, kata ganti orang ketiga (orang yang dibicarakan). Begitu pula dengan kata ganti orang ketiga, dia dibagi menjadi kata ganti orang ketiga tunggal (dia) dan kata ganti orang ketiga jamak (mereka).

Pemakaian semua kata ganti sebagaimana dipaparkan pada paragraf sebelumnya harus mengikuti kaidah bahasa Indonesia. Kaidah pemakaian ini berkaitan dengan situasi kebahasaan. Dalam fenomena ini yang lebih kerkenaan dengan pemakaian kata ganti adalah situasi kebahasaan dari segi penutur atau orang yang berpartisipasi dalam pembicaraan itu, siapa atau berapa orang yang berbicara, kepada siapa atau berapa orang dia berbicara, dan siapa atau berapa orang yang dibicarakan. Dengan memperhatikan hal itu, tentu tidak akan terjadi kesalahan dalam pemilihan atau penempatan kata ganti tertentu dalam sebuah kalimat.

Kembali kepada pemakaian kata ganti kita yang akhir-akhir ini sering tidak tepat. Meskipun keduanya termasuk dalam kata ganti orang pertama jamak, kami dan kita memiliki perbedaan makna dan tentunya  pemakaian dalam sebuah kalimat. Perbedaannya adalah kami (- orang yang diajak berbicara) dan kita (+ orang yang diajak berbicara). Keduanya sama-sama mewakili pembicara yang jumlahnya lebih dari satu atau jamak. Jadi, kami dipakai oleh pembicara yang jumlahnya lebih dari satu, tetapi tidak termasuk orang yang diajak berbicara; kita mewakili pembicara dan orang yang diajak berbicara. Barangkali penjelasannya lebih gamblang dengan fragmen di bawah ini.

Si A, B, dan C lagi bareng-bareng nonton film di sebuah gedung bioskop. Mereka bertiga terlibat obrolan seperti di bawah ini.

Si A             : Kita mau nonton di studio berapa?

Si B              : Terserah kamu, kami sih ngikut aja.

Setelah mereka membicarakan film apa yang akan ditonton, si C juga ikut berbicara.

Si C             : Eh, aku beli cemilan dulu ya…

Si A & B    : Ok, deh… kami ke toilet dulu ya.. tungguin di sini.

Berdasarkan percakapan di atas, dapat dijelaskan bagaimana penempatan kami dan kita dalam sebuah kalimat. Ketika si A menggunakan kata ganti kita dalam kalimat percakapan baris pertama, kata itu digunakannya untuk mewakili dirinya sebagai pembicara sekaligus dua temannya yang diajak berbicara. Sementara itu, si B memilih kata kami, seperti dalam baris kedua kalimat percakapan di atas, untuk mewakili dirinya dan si C; tidak termasuk si A. Demikian pula dengan pemakaian kata kami pada baris terakhir percakapan. Kata kami digunakan untuk mewakili dua oang yang berbicara (orang pertama jamak) dalam komunikasi itu dan diucapkan bersama-sama oleh mereka (si A dan si B).

Akhir-akhir ini sering kita dengar kata ganti kita digunakan dengan minus (-) orang yang diajak berbicara, padahal sebenarnya tidak. Dengan kata lain, kata ganti kita dipakai untuk menggantikan kata kami. Kutipan pernyataan artis di bagian awal, misalnya, merupakan contoh kalimat dengan pemakaian kata ganti kita yang tidak tepat. Kata ganti kita seperti itu biasanya digunakan pada saat diwawancarai wartawan. Kalau sang artis mengatakan, “Hubungan kita hanya sebatas teman…”, arti sesungguhnya adalah dia berhubungan dengan orang yang sedang digosipkan dengannya sekaligus berhubungan juga dengan wartawan yang mewawancarainya, padahal yang dia maksud adalah hubungan dia dengan orang yang dibicarakannya. Kalimat yang tepat seharusnya berbunyi, “Hubungan kami hanya sebatas teman…“.

Demikian, saya harap paparan ini dapat memberi manfaat bagi Anda kalau sempat membacanya. Tidak salah kalau saya mengingatkan Anda lagi tentang slogan GUNAKANLAH BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR. Slogan ini tidak mengharuskan pemakai bahasa Indonesia untuk selalu memakai bahasa baku. BAIK berarti sesuai situasi dan kondisi; BENAR berarti sesuai dengan kaidah.

25 Maret, 2009 ~ Linguistik ~ Comments

Your comment:

NAVIGATION

SYNDICATE

LINKS

SEARCH